Menu Sahur Seseorang 140908

Posted in Tentang Seseorang on September 14, 2008 by ●

“Sahur ayam goreng, telur, gule otak, daun singkong dan sambal hijau. Minumnya tetep es teh manis…” *


Hmm… Gue cuma sedikit cemas loe gak dapat pahala menahan nafsu famer, bro. :-D

*laporan melalui layanan messenger yang pura-pura saya abaikan seraya mengelus dada (dan menelan ludah)

asoy-bagi

Posted in Terlalu Indy on September 8, 2008 by ●

Banyak cerita asoy-bagi (bahasa ngarang) kepada orang-orang tertentu. Dengan teman A, misalnya, saya bisa membuat kata-kata baru yang memudahkan proses penyampaian cerita, sementara dengan B saya hanya perlu menyebut subjek dan objek (selanjutnya membiarkan dia mencari predikat dan berpikir keras mengartikan isi cerita saya).

Sayang, jarak tempat tinggal saya dan teman-teman dekat saya tidak sekedar selemparan batu sehingga proses berbagi rasa dan pengalaman hanya bisa dilakukan melalui telpon atau internet yang menyebabkan menurunnya kadar greget saat bercengkerama.

Sejak beberapa bulan lalu, beragam cerita kehidupan (cieeh, cerita kehidupan!) saya hadapi: Eyang sakit, rasa malas mendera sementara saya harus tetap bekerja, hilangnya seorang teman dekat yang telah saya beri keleluasaan ikut campur dunia nan tetap asik ini (sepertinya dia diculik genderuwo), ditambah masalah klasik yaitu horny malu-malu. (Eh, bagian terakhir becanda ding!)

Mungkin kemumetan (yang sampai membuat saya ingin gurah otak) ini yang menyebabkan saya bermimpi sedikit aneh semalam. Di dalam mimpi itu, saya duduk melamun di dalam bus antar kota yang tak kunjung berangkat menanti penumpang di pintu keluar terminal Baranangsiang, Bogor. Ya, Bogor. Jangan tanya mengapa terminal ini yang terpilih. Yang pasti, setelah sekian lama, lamunan saya terusik oleh seruan seorang ‘pedagang’ di luar bus. Bila biasanya pedagang-pedagang di terminal berteriak “Rokok..Rokok..” atau “Tarahu..Tarahu…”

..well, tidak di mimpi saya.

Karena yang saya dengar adalah “Caruhat.. Caruhat…”

Harta atau Nyawa?

Posted in Indy Kecil, Terlalu Indy on September 8, 2008 by ●

Anak atau Tiong?

TIONG!

*Ibu saya berpura-pura menduduki saya seperti induk ayam mengerami telurnya*

Hahaha. ANAK! (Aku) ANAK, Ma!

Ini satu kenangan masa kecil yang kerap bermain-main di benak saya saat jemu atau penat mendera. Sepertinya, kepolosan anak-anak membuat mereka tidak mengenal jawaban “atau” ketika diharuskan memilih.

Bagaimana dengan kepolosan tiong-tiong?

derita wiken

Posted in Jangan Tanya on April 26, 2008 by ●

akhir pekan:

ketika bulan dililit bintang-bintang terang yang dengannya mereka bergembira ria

debu jadi permata

Posted in Jangan Tanya on April 8, 2008 by ●

Suatu hari nanti,

pasti kan bercahaya

pintu akan terbuka, kita langkah bersama.

Di situ kita lihat,

bersinarlah hakikat

debu jadi permata, hina jadi mulia.

(Suci Dalam Debu, Iklim)

Optimis. Insya Allah manis.

Hujan Permen

Posted in Tentang Seseorang on April 1, 2008 by ●

Sesaat sebelum tidur, saya mendapati satu SMS di telpon saya.

“Mbak, Ibu masuk Rumah Sakit.”

Entah ingin berbalas pantun SMS atau sekedar menambah unsur dramatis, adik saya, sang pengirim berita tidak menuliskan penyebab Ibu masuk rumah sakit. Ia menjawab setelah saya tanya, “Stroke ringan”.

Ibu adalah eyang yang tinggal bersama kami seumur hidup kami.  

Sesungguhnya, dulu saya tidak pernah akur dengan Eyang. Bahkan, waktu kecil, saya dilaknat habis. Sebentar, saya tarik kembali ucapan saya, karena kata ‘dilaknat’ sepertinya sedikit berlebihan. Disunat? Well, tidak tepat juga, karena  Eyang saya bukan mantri sunat serta bukan pesunat seperti Deddy Corbuzier.

Oh Tuhan, kapan sih kutukan plesetan ini berakhir?

Begini, dulu saya dianggap nakal oleh Eyang. Tepatnya, sangat nakal! Berbeda dengan kakak perempuan saya yang pendiam dan penurut, Indy kecil dianggap jauh dari standar Eyang tentang ‘anak baik’. Baginya, Indy kecil BUKAN anak baik. Penilaian ini didasari atas hal-hal berikut: saya cerewet, terlalu pecicilan, selalu melawan kalau diberitahu, sering berkelahi, dan Indy kecil adalah tersangka tunggal terdengarnya teriakan Sarah, anak tetangga sebelah yang super cengeng, karena digigit Indy kecil (pengakuan lengkapnya menyusul). Hal-hal tersebut seakan menambah daftar ketidaksukaan Eyang terhadap satu hobi saya dulu, yaitu memanjat, yang menurut beliau berbahaya dan bikin deg-degan.

Ibu saya bilang, waktu kecil saya selalu tampak bahagia jika berhasil mengganggu Eyang. Salah satu jurus andalan saya adalah saya menyelinap ke restoran Eyang melalui pintu samping, memanjat etalase makanan setinggi dada orang dewasa normal (yang berarti setinggi pinggang Rangga . Hiks! Peace, bro!). Di atas etalase itu berjejer toples-toples besar berisi permen untuk dijual. Setelah dengan lihai menyeimbangkan diri di etalase kaca tersebut, saya meraup sebanyak mungkin isi toples, lalu saya sebar sejauh-jauhnya seraya berseru…

“HORE! HUJAN PERMEN!!”

Selanjutnya, bisa ditebak, Eyang menghampiri Indy kecil dan bisa dipastikan kalimat ‘teramah’ yang terlontar dari mulut Eyang adalah, ”Aduh, arek iki…”[1] Sekian waktu berlalu, saya berhasil mengembangkan skill untuk menghilang dari TKP tanpa terlihat. Satu kejahatan membuahkan kejahatan berikutnya.

Tumbuh remaja, saya masih dianggap nakal dan tidak bisa dipercaya. Saya hanya bisa mengelus dada dan menerima dengan hati lapang. Berhasil meraih predikat, harus bisa mempertahankan, bukan? Hehehe.  Ketika saya harus pindah (teramat) jauh, Eyang sedang tidak berada di Jakarta, saya lega. Hal ini berarti satu hal: tidak ada prosesi tangis-menangis. Setelah tidak tinggal bersama selama dua tahun, saya berkunjung ke Jakarta tahun lalu tanpa memberi tahu siapa-siapa. Kunjungan itu dimaksudkan sebagai kejutan di ulang tahun Eyang. Selama di Jakarta, saya berbagi kamar dengannya, saya tidur di ranjang yang ia punya sejak ibu saya kecil, sementara ia berbaring di samping saya memandangi saya dalam gelap. Saya tahu Eyang sayang saya, si arek iki.

Cepat sembuh ya, Eyang.  

[1] Aduh, anak ini.

Posted in Jangan Tanya on Maret 25, 2008 by ●

Sekali lagi aku bertemu kesederhanaan,

ia berikan sesuatu yang bisa nyata

dulu.

 

Pada akhir hari, tidakkah penyerahan hati itu sederhana?

01

Posted in Fiksi, Jangan Tanya on Maret 25, 2008 by ●

Ibuku sakit.
Anak itu berdiri di depanku. Baru kali ini aku bisa menatap jelas: matanya persis mata ayahnya.
Ibuku sakit karena kamu.
Aku menghela napas.
Karena aku?
Ya. Ibuku menangis tanpa henti setelah tahu suaminya punya kekasih.
Hidung anak ini pun seperti hidung ayahnya.
Kamu akan bilang apa sekarang?
Aku tersentak.
Nak, kamu mau aku bilang apa?

seperti hati

Posted in Berusaha Puisi on Maret 23, 2008 by ●

 

Kaos merahku yang kupakai ini milik kamu,

seperti juga seluruhku.

(Bukan) Hil Yang Mustahal

Posted in Terlalu Indy on Februari 17, 2008 by ●

“Jadi pembantu…”

Ini adalah kalimat pembuka paling populer pertunjukan grup lawak Srimulat. Biasanya, Basuki atau Nunung atau siapapun yang berperan jadi pembantu rumah tangga, muncul dari sisi panggung sambil berlari-lari kecil dengan lap terhampar di bahu. Terkadang, properti lap itu dipukul-pukul ke sofa atau dipakai menyeka kursi atau meja, sampai akhirnya kalimat maha agung itu terlontar dari mulut mereka.

Menurut saya, ini brilian, cara ringkas namun efektif mengajak pemirsa (atau penonton, jika pertunjukan panggung) berhenti tepuk tangan lalu mingkem untuk menyimak (tanpa melipat tangan di meja seperti penggambaran murid-murid Sekolah Dasar). Selanjutnya, panggung adalah milik sang pemain.Dengan kata lain, jangan ganggu sang babu.

Tanpa bermaksud kompetitif, cara Srimulat tersebut membuat saya sedikit minder. Jurnal ini tercipta dua bulan lalu, namun baru sekarang saya isi. Jurnal ini saya anggap penting bagi pemulihan Bahasa Indonesia saya yang sedikit demi sedikit terlindas, sehingga penting juga untuk memulai dengan cara yang sama menariknya dengan pembukaan lawak Srimulat. Ada pepatah “Cinta pada pandangan pertama” serta “Jangan menilai buku dari sampulnya”. Keduanya saling terkait, jika diartikan secara dalam memang ada kecenderungan untuk menilai sesuatu berdasarkan yang kasat mata di awal. Selain itu, ada pula pepatah- pepatah lainnya: “Kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina”, “Besar pasak daripada tiang” serta “Bak bulan empat belas”. Ketiga pepatah ini bukan bagian pendukung argumentasi. Hihihi.

Sebetulnya saya telah berusaha santai, tapi susah ya. Mungkin saya yang terlalu ribet soal ini-itu. Terlintas dalam benak saya untuk langsung saja membahas satu pembahasan tanpa prolog of the blog. Prosesi pemotongan pita dilanjutkan dengan salam-salaman, poto-poto dan makan nasi kuning, atau parade di jalan-jalan protokol ibukota, bahkan ide menyewa penari setengah telanjang yang keluar dari kue tart besar sebagai cara membuka jurnal ini juga telah terpikirkan dan langsung tereliminasi. Sepertinya ide-ide tersebut lebih tepat guna untuk ulang taun saya beberapa bulan lagi.

Jadi, mari kita bikin perjanjian. Anggaplah tirai telah terangkat, biarkan panggung menjadi milik saya, berikan saya kebebasan menggunakan kata “gue”, “saya”, “aku” atau kata-kata ganti orang pertama lainnya, serta izinkan pula sesekali saya menculik kata-kata atau istilah-istilah di luar Bahasa Indonesia yang baik dan menggairahkan. Ups, maksudnya, Bahasa Indonesia yang baik dan benar ( -benar menggairahkan. Teteup!). Berjanjilah untuk memberikan komentar, opini, sanjungan-sanjungan tak tertahankan atau kritik bila mampu (seperti naik haji).

Dan saya berjanji akan terus menggemaskan.

Lagipula, seberapapun kuatnya saya berusaha berhenti menggemaskan, saya pasti gagal.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.