“Jadi pembantu…”
Ini adalah kalimat pembuka paling populer pertunjukan grup lawak Srimulat. Biasanya, Basuki atau Nunung atau siapapun yang berperan jadi pembantu rumah tangga, muncul dari sisi panggung sambil berlari-lari kecil dengan lap terhampar di bahu. Terkadang, properti lap itu dipukul-pukul ke sofa atau dipakai menyeka kursi atau meja, sampai akhirnya kalimat maha agung itu terlontar dari mulut mereka.
Menurut saya, ini brilian, cara ringkas namun efektif mengajak pemirsa (atau penonton, jika pertunjukan panggung) berhenti tepuk tangan lalu mingkem untuk menyimak (tanpa melipat tangan di meja seperti penggambaran murid-murid Sekolah Dasar). Selanjutnya, panggung adalah milik sang pemain.Dengan kata lain, jangan ganggu sang babu.
Tanpa bermaksud kompetitif, cara Srimulat tersebut membuat saya sedikit minder. Jurnal ini tercipta dua bulan lalu, namun baru sekarang saya isi. Jurnal ini saya anggap penting bagi pemulihan Bahasa Indonesia saya yang sedikit demi sedikit terlindas, sehingga penting juga untuk memulai dengan cara yang sama menariknya dengan pembukaan lawak Srimulat. Ada pepatah “Cinta pada pandangan pertama” serta “Jangan menilai buku dari sampulnya”. Keduanya saling terkait, jika diartikan secara dalam memang ada kecenderungan untuk menilai sesuatu berdasarkan yang kasat mata di awal. Selain itu, ada pula pepatah- pepatah lainnya: “Kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina”, “Besar pasak daripada tiang” serta “Bak bulan empat belas”. Ketiga pepatah ini bukan bagian pendukung argumentasi. Hihihi.
Sebetulnya saya telah berusaha santai, tapi susah ya. Mungkin saya yang terlalu ribet soal ini-itu. Terlintas dalam benak saya untuk langsung saja membahas satu pembahasan tanpa prolog of the blog. Prosesi pemotongan pita dilanjutkan dengan salam-salaman, poto-poto dan makan nasi kuning, atau parade di jalan-jalan protokol ibukota, bahkan ide menyewa penari setengah telanjang yang keluar dari kue tart besar sebagai cara membuka jurnal ini juga telah terpikirkan dan langsung tereliminasi. Sepertinya ide-ide tersebut lebih tepat guna untuk ulang taun saya beberapa bulan lagi.
Jadi, mari kita bikin perjanjian. Anggaplah tirai telah terangkat, biarkan panggung menjadi milik saya, berikan saya kebebasan menggunakan kata “gue”, “saya”, “aku” atau kata-kata ganti orang pertama lainnya, serta izinkan pula sesekali saya menculik kata-kata atau istilah-istilah di luar Bahasa Indonesia yang baik dan menggairahkan. Ups, maksudnya, Bahasa Indonesia yang baik dan benar ( -benar menggairahkan. Teteup!). Berjanjilah untuk memberikan komentar, opini, sanjungan-sanjungan tak tertahankan atau kritik bila mampu (seperti naik haji).
Dan saya berjanji akan terus menggemaskan.
Lagipula, seberapapun kuatnya saya berusaha berhenti menggemaskan, saya pasti gagal.