Sekali lagi aku bertemu kesederhanaan,
ia berikan sesuatu yang bisa nyata
dulu.
Pada akhir hari, tidakkah penyerahan hati itu sederhana?
Sekali lagi aku bertemu kesederhanaan,
ia berikan sesuatu yang bisa nyata
dulu.
Pada akhir hari, tidakkah penyerahan hati itu sederhana?
Ibuku sakit.
Anak itu berdiri di depanku. Baru kali ini aku bisa menatap jelas: matanya persis mata ayahnya.
Ibuku sakit karena kamu.
Aku menghela napas.
Karena aku?
Ya. Ibuku menangis tanpa henti setelah tahu suaminya punya kekasih.
Hidung anak ini pun seperti hidung ayahnya.
Kamu akan bilang apa sekarang?
Aku tersentak.
Nak, kamu mau aku bilang apa?
Kaos merahku yang kupakai ini milik kamu,
seperti juga seluruhku.