Hujan Permen

Sesaat sebelum tidur, saya mendapati satu SMS di telpon saya.

“Mbak, Ibu masuk Rumah Sakit.”

Entah ingin berbalas pantun SMS atau sekedar menambah unsur dramatis, adik saya, sang pengirim berita tidak menuliskan penyebab Ibu masuk rumah sakit. Ia menjawab setelah saya tanya, “Stroke ringan”.

Ibu adalah eyang yang tinggal bersama kami seumur hidup kami.  

Sesungguhnya, dulu saya tidak pernah akur dengan Eyang. Bahkan, waktu kecil, saya dilaknat habis. Sebentar, saya tarik kembali ucapan saya, karena kata ‘dilaknat’ sepertinya sedikit berlebihan. Disunat? Well, tidak tepat juga, karena  Eyang saya bukan mantri sunat serta bukan pesunat seperti Deddy Corbuzier.

Oh Tuhan, kapan sih kutukan plesetan ini berakhir?

Begini, dulu saya dianggap nakal oleh Eyang. Tepatnya, sangat nakal! Berbeda dengan kakak perempuan saya yang pendiam dan penurut, Indy kecil dianggap jauh dari standar Eyang tentang ‘anak baik’. Baginya, Indy kecil BUKAN anak baik. Penilaian ini didasari atas hal-hal berikut: saya cerewet, terlalu pecicilan, selalu melawan kalau diberitahu, sering berkelahi, dan Indy kecil adalah tersangka tunggal terdengarnya teriakan Sarah, anak tetangga sebelah yang super cengeng, karena digigit Indy kecil (pengakuan lengkapnya menyusul). Hal-hal tersebut seakan menambah daftar ketidaksukaan Eyang terhadap satu hobi saya dulu, yaitu memanjat, yang menurut beliau berbahaya dan bikin deg-degan.

Ibu saya bilang, waktu kecil saya selalu tampak bahagia jika berhasil mengganggu Eyang. Salah satu jurus andalan saya adalah saya menyelinap ke restoran Eyang melalui pintu samping, memanjat etalase makanan setinggi dada orang dewasa normal (yang berarti setinggi pinggang Rangga . Hiks! Peace, bro!). Di atas etalase itu berjejer toples-toples besar berisi permen untuk dijual. Setelah dengan lihai menyeimbangkan diri di etalase kaca tersebut, saya meraup sebanyak mungkin isi toples, lalu saya sebar sejauh-jauhnya seraya berseru…

“HORE! HUJAN PERMEN!!”

Selanjutnya, bisa ditebak, Eyang menghampiri Indy kecil dan bisa dipastikan kalimat ‘teramah’ yang terlontar dari mulut Eyang adalah, ”Aduh, arek iki…”[1] Sekian waktu berlalu, saya berhasil mengembangkan skill untuk menghilang dari TKP tanpa terlihat. Satu kejahatan membuahkan kejahatan berikutnya.

Tumbuh remaja, saya masih dianggap nakal dan tidak bisa dipercaya. Saya hanya bisa mengelus dada dan menerima dengan hati lapang. Berhasil meraih predikat, harus bisa mempertahankan, bukan? Hehehe.  Ketika saya harus pindah (teramat) jauh, Eyang sedang tidak berada di Jakarta, saya lega. Hal ini berarti satu hal: tidak ada prosesi tangis-menangis. Setelah tidak tinggal bersama selama dua tahun, saya berkunjung ke Jakarta tahun lalu tanpa memberi tahu siapa-siapa. Kunjungan itu dimaksudkan sebagai kejutan di ulang tahun Eyang. Selama di Jakarta, saya berbagi kamar dengannya, saya tidur di ranjang yang ia punya sejak ibu saya kecil, sementara ia berbaring di samping saya memandangi saya dalam gelap. Saya tahu Eyang sayang saya, si arek iki.

Cepat sembuh ya, Eyang.  

[1] Aduh, anak ini.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.